Labankor apaan?



-LABANKOR-
By Lulu Puspasari


“Labankor? What is Labankor? I've never heard of this before” suara itu mengejutkanku hingga aku tersentak. Kemudian aku tertawa kecil menyadari siapa yang berdiri di belakangku.
“Heyy Cinoooo.. long time no see bro. Sejak kapan ada di belakang aku?
“Dari tadi, Za. Udah ada 15 menit-an kali” sahutnya sambil memainkan alis yang hampir mirip sinchan.  Pake ala-ala cowok sok cool gitu.
Okay kenalin dia yang tiba-tiba muncul dari belakang tanpa diundang adalah Berly Tacinobe. He’s my cousin. He was as handsome as his father and as smart as his mother.
Mungkin ada yang bertanya, apa sih arti namanya? Tacinobe itu apa? Ahah, itu sih aku juga kurang tau, Cuma suka tebak-tebak ala kidz zaman now Tacinobe itu tanpa micin no obesitas, karena ia emang alergi micin dan badannya ideal begitu-begitu aja meski makan super jumbo. Aslinya sih cuma ibu bapaknya aja yang tau artinya apa, seperti nama-nama jepang-jepang begitulah ya.
Cino itu sepupu yang sangat menyenangkan untukku sejauh ini karena kita punya banyak kesamaan yang terkadang dianggap aneh oleh orang lain bahkan mungkin sama keluarga besar kita. Seperti halnya kita suka makanan abstrak, campur-campur gak jelas gitu. Contoh kecilnya kita suka makan bubur jawa campur agar-agar ditambah lagi sama potongan jeruk manis di dalamnya, abis itu kita suka makan nasi pake cuka, terus kita pernah coba makan pisang goreng pake cuka juga. Ah demi itu makannya asik guys, enak banget dan kalian perlu coba tapi kita gak yakin ya kalian bakal suka karena selera orang kan beda-beda.
Eh ini kok malah bahas Cino, balik ke cerita tentang Labankor aja yah. Cino nya kapan-kapan.
“Minggu gini ngerjain tugas Za?”
“Enggak sih, cuma iseng aja. Seperti biasa nulis-nulis cerita gak jelas gitu. Hehe”
“Jangan bilang cuma sih Za, nulisnya yang serius sampe dibukuin gitu kan cakep. Biar nanti koleksi novel aku bertambah, kan dapat  gratis 1 buku dari kamu lumayan”
“haha, kamu bisa aja No.. Tapi kalo diseriusin nanti aku gila gimana? Kan kamu juga yang repot.. weeekk”
“Kalo kamu gila, tinggal kasih aja ke RSJ sana Za. Biar RSJ makin ramai dengan adanya kamu.”
“haha, iss, kok gitu sih. Jahat abis demi apa!!!”
Cino tertawa, aku juga. Ruang belajar yang tadinya hening jadi penuh gelak tawa kita berdua. Baginilah ceritanya kalo saudara baru berjumpa setelah sekian lama.
“Eh, itu Labankor apaan?”
“ciye Cino kepo dah.”
“kan cuma tanya, masa  gak boleh sih Za..”
“Labankor itu.. kasih tau gak ya?!”
“ahahah, mulai lagi deh jailnya. Kasih tau sih.. please!!!”
Serius waktu dia bilang gitu lucu banget, gayanya pake ikutan aegyo korea-korea gitu sambil main-main mata. Maklum lah dia itu penyuka korea, mulai dari lagu, drama, style, dia ikutin semua. Dia pernah sampai-sampai rela antri berjam-jam cuma buat dapatin itu yang namanya tiket konser 2Ne1 yang booming banget dengan lagu “Nega jeil jal naga”. Est ini mah cowok emang kpopers abis.
“Ketemu admin lab kita dijamin tamat riwayat mu bro..” ucapku
“Lah apa sangkutannya ke admin lab?” dia akhirnya bingung pake garuk-garuk kepala.
“nih ya aku jelasin, Labankor itu artinya Laboratorium Anti Korea. Siapa pun yang bicara pakai bahasa korea bakal kena coret habis-habisan sama si kakaknya (admin). “
“Jeongmall? seriusan demi apa?”
“duarius, sampai seriburius pun boleh kalau kamu mau sih No. ahha”
“kok gitu sih?”
“Gak tau, Pokoknya kakaknya gak suka aja. Mau jelasnya tanya langsung ke dia sih ya. Aku mah apa, cuma butiran pasir yang nemplok di batu bata jadi gak tau apa dan kenapa-nya.”
“udah pernah ada yang kena coret dia ?”
“Iya, bahkan sampai dia pun pernah coret mukanya sendiri karena dia kesebut nama presiden korea. Padahal kan gak masalah ya, tapi karena sportifitasnya ya dia tetap lanjutkan coret mukanya pakai spidol itu. Alhasil mukanya udah kayak Naruto KW 2  selama lebih dari 1 jam an gitu.”
“waahh, daebakk.. kalo aku disana, alamat abis semua ya dari ujung kepala, sampai kaki bahkan baju-baju dah itu kena coretan semua.” Dia tertawa penuh makna, entak mulai takut untuk berjumpa si kakaknya atau justru penasaran dengannya.
Semalaman dia sibuk bertanya tentang si kakak admin yang anti korea. Bukannya takut, dia justru penasaran dengan sosok itu. Dia sangat ingin ketemu.
“sekali aja ya, besok aku ikut kamu kuliah deh. Kepo tau.”
“ih, jadi cowok kok kepoan sih No..”
“Ya kan biasa aja sih, siapa tau dapat pencerahan begitu kan. Penasaran kenapa sebenarnya dia benci korea, apa yang sebenarnya dia gak suka dari korea. Mencoba menerima pendapat dari pandangan yang berbeda Za.”
“em.. gimana ya?!”
“…”
“Iya deh, boleh. Bentar aja loh ya, awas jangan sampai besok bikin kakaknya marah loh ya!”
“iya, iya.. janji deh.. “

Keesokan harinya..
Pagi ini aku dapat kabar mendadak dosen pada sibuk semua, so semua kuliah diganti dengan belajar mandiri bertemankan tugas-tugas online yang hari ini juga harus tuntas. Yah, mager kan ceritanya mau otw kuliah tapi karena udah janji sama Cino buat ketemuan dengan kakak admin, terpaksa deh kita ngampus sekalian cuci mata siapa tau ada yang nyangkut. Eh hahah ..
“Morning kak Diko, Sinab.” Sapaku pada kakak admin dan temanku yang hobinya nongrong di lab berburu wifi. Uhuu sorry ya sis, kebuka deh satu kartumu. Hehe
“Morning Za. “ jawab mereka serentak. Udah kayak janjian aja yaa.
Si kakak admin mah gak bingung lagi kita pada mau ngapain kesana. Ruang admin lab itu udah seperti basecamp nya kita-kita. Apalagi sekarang pasukan seangkatan lagi pada sibuk ngurus proposal bimbingan, ya tempat belajar dan dimintai pendapat yang paling ajib itu di lab bareng kak Diko. Hitung-hitung latihan bimbingan sebelum kena getok sama dosen pembimbing yang asli kan ya.
“eh siapa tuh Za? Kenalinlah..” tanya kak Diko padaku
“Oh iya kak, Sinab. Kenalin ini sepupu aku namanya Berly Fucinobe panggil aja Cino, dia numpang mampir siapa tau ada cemilan buat sarapan kak. Ahah”
“wooosh, enak aja kamu Za. gak segitunya juga kali .”
Semua tertawa, emang lucu ya? Perasaan enggak sih. Ah udah lah abaikan.
Kita semua pun duduk plus sibuk dengan kegiatan masig-masing. Hingga tak sadar matahai sudah menunjukkan pesonanya, lagi cantik-cantiknya udah pukul 12 aja ternyata.
“Baegopha” sekilas itulah yang aku dengar terucap oleh Cino. Sinab pun mendengarnya dan alhasil dia langsung sibuk cari spidol. Tapi kok kak Diko tenang-tenang aja ya? Santai aja dia sama di laptopnya.
“kak, spidol mana? Spidol mana?” Sinab semangat banget ya nyarinya.
“lah buat apa?” tanya kak Diko yang sepertinya emang gak sadar deh tadi ya.
“Cino tadi ngomong korea kak.” Tegasku
“Emang dia ngomong apa?! Timpal kak Diko
“Baegopha”
“Apaan tu? Emang bahasa korea?”
“hhahaha iya kakakku, is lah.” Sinab, Cino dan Aku pun tertawa terbahak-bahak. Kak Diko pun ikutan di akhirnya.
“yeay, Kak Diko kan gak tau, berarti batal dong ya spidolnya?! Ucap Cino
“eh itu mah tetap, lanjutkan Za , bantu pegangin tuh anak ya Sinab. Alhasil tangan Cino penuh coretan spidol.. haha itu baru kakak kita.
Selang waktu 10 menit berlalu aku yang sedang asik liat post Ig,  tiba-tiba aku terkejut liat postingan seseorang kala itu dan…
“Daebakk!!!”
“eh Za.. apaan? Spidol spidol… buruan mana spidol.” Kak Diko langsung beranjak dari tempat duduknya bersiap mengambil spidol dari tangan Sinab. Aku lari keluar menghindari kak Diko.
“eh kak, keceplosan, gak pake coret-coret lah sekali aja yaa..” terus kak Diko duduk lagi. Aku pun kembali masuk ke ruangan dan duduk dengan santai. Lalu, kak Diko keluar lewat pintu sebelah yang bisa tembus ke ruang admin sebelah. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi
Kreeekkk..
Suara pintu terkunci dari luar.
Kak Diko masuk lagi dari ruang admin sebelah sambil membawa spidol ditangannya.
“ahh, astaga segitunya kak, sampai rela kunci pintu dari luar demi mau coret aku. Ya Allah..” keluhku
Semua yang ada di ruangan hanya bisa tertawa geli melihat tingkahku yang aneh ini. Akhir cerita tanganku kini penuh coretan tinta spidol permanent, terus gimana hapusnya ini?! Haha, tunggu aja, entar juga hilang kata mereka. Sama seperti posisi kamu di hatiku kini. Tunggu aja bentar lagi juga hilang di telan malam . Oleh gemerlap bulan bintang yang kian temaram yang meragu karena kau tak lagi dipelukan. Hingga akhirnya kau ku ikhlaskan dengan senyuman.
Sekian….

Komentar